LUWUK, WACANA PUBLIK – Pemerintah Kabupaten Banggai kembali menggelar Festival Ketupat dalam rangka meramaikan tradisi halal bihalal yang menjadi agenda tahunan masyarakat. Untuk tahun 1447 Hijriah atau 2026 ini, kegiatan berlangsung meriah di Lapangan Mirqan, Bukit Halimun, Jumat (10 April 2026).
Acara tersebut dibuka langsung oleh Bupati Banggai, Insinyur Haji Hadirudin, yang hadir bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta para kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banggai.

Sebanyak 64 stan turut ambil bagian, mulai dari tingkat OPD hingga kecamatan se-Kabupaten Banggai. Dari hasil pemantauan media, total ketupat yang disajikan mencapai angka fantastis, yakni sekitar 18.000 buah ketupat. Angka ini menjadikan festival tersebut bukan sekadar ajang kuliner, tetapi juga “parade ketupat berjamaah” yang menyita perhatian masyarakat.
Sorotan khusus tertuju pada stan Kecamatan Imbo (Imbonbo) yang tercatat sebagai penyaji ketupat terbanyak, yakni 1.447 buah, angka yang disesuaikan dengan tahun Hijriah. Kreativitas ini menuai apresiasi sekaligus canda dari pengunjung yang menyebutnya sebagai “stand ketupat paling niat sedunia akhirat.”
Dalam suasana penuh keakraban, Bupati Banggai terlihat berkeliling dari satu stan ke stan lainnya, mencicipi sajian ketupat beserta lauk-pauknya. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran Forkopimda dan kepala OPD, menciptakan suasana santai namun tetap penuh makna silaturahmi.
Tak hanya festival kuliner, acara halal bihalal ini juga diisi dengan tausiah keagamaan yang menghadirkan ustaz kondang Muhammad Nur Syam dari Jakarta. Tausiah tersebut menjadi penyeimbang antara kemeriahan festival dan nilai spiritual yang ingin disampaikan dalam momen Syawal.
Secara umum, kegiatan ini berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta maupun masyarakat. Festival Ketupat tak hanya menjadi simbol kebersamaan, tetapi juga ajang mempererat hubungan antarinstansi dan masyarakat.
Meski demikian, di tengah kemeriahan, beberapa pengunjung sempat berseloroh, “Yang penting bukan cuma banyak ketupatnya, tapi juga jangan sampai yang pulang cuma kenyang, tapi lupa makna halal bihalalnya.”
Dengan konsep yang terus dipertahankan setiap tahun, Festival Ketupat Banggai kini tak sekadar tradisi, melainkan telah menjelma menjadi ikon perayaan yang memadukan budaya, kuliner, dan nilai religius dalam satu hamparan tikar… lengkap dengan santan yang “naik pangkat” setiap tahunnya. */tas


















