“Takbir Menggema di Mesjid Agung An-Nur Luwuk, Jamaah Tersentak Saat Khatib ‘Menyembelih’ Kesombongan di Mimbar”

banner 468x60

LUWUK, WACANA PUBLIK – Pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi di Masjid Agung An-Nur Luwuk, Rabu (27/5/2026), berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan. Ribuan jamaah memadati area masjid sejak pagi hari untuk menunaikan salah satu ibadah terbesar umat Islam tersebut.

Di tengah gema takbir yang mengguncang pelataran masjid, khutbah Idul Adha yang disampaikan Doktor Jumail sukses menyentuh perhatian jamaah. Isi khutbah tidak hanya berbicara soal penyembelihan hewan kurban, tetapi juga “menyentil” penyakit sosial manusia modern: kesombongan, kerakusan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

banner 336x280

Dalam khutbahnya, Jumail menegaskan bahwa seluruh kebesaran hanyalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Gunung yang menjulang, lautan yang luas, hingga dunia yang terlihat megah, menurutnya tidak berarti apa-apa tanpa rahmat Allah SWT.

“Tidak ada kekuatan selain kekuatan Allah dan tidak ada kemuliaan selain kemuliaan-Nya,” tegas Jumail di hadapan jamaah.

Pantauan media ini, suasana pelaksanaan salat berlangsung tertib. Jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, ASN, pelajar hingga warga umum, tampak memenuhi saf hingga area luar masjid.

Namun di balik suasana religius itu, khutbah Jumail justru menjadi bagian paling menyita perhatian. Ia menekankan bahwa Idul Adha bukan hanya seremoni tahunan atau sekadar agenda penyembelihan hewan kurban.

“Idul Adha adalah hari pengorbanan, hari keikhlasan, dan hari ketundukan total kepada Allah SWT,” ujarnya.

Secara investigatif, pesan khutbah tersebut dinilai relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini yang mulai bergeser pada simbolisme keagamaan semata, tetapi terkadang melupakan substansi pengorbanan dan kepedulian sosial.

Jumail mengangkat kisah monumental Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS sebagai pelajaran besar tentang iman dan ketundukan. Ia menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya di padang tandus semata-mata karena menjalankan perintah Allah SWT.

Sementara Siti Hajar, kata Jumail, berlari antara Bukit Safa dan Marwah demi mencari air bagi putranya Ismail yang kehausan. Dalam kondisi penuh kepasrahan, Allah kemudian menghadirkan mukjizat air zam-zam.

“Pertolongan Allah selalu datang kepada hamba yang sabar dan tawakal,” tutur Jumail.

Puncak khutbah terjadi saat ia menjelaskan makna sejati kurban. Menurutnya, hakikat kurban bukan hanya menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego, kesombongan, dan kerakusan manusia.

Mengutip Surah Al-Hajj ayat 37, Jumail mengingatkan bahwa yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging hewan kurban, tetapi ketakwaan umat manusia.

“Yang harus disembelih hari ini bukan hanya sapi dan kambing, tetapi juga sifat tamak dan cinta dunia yang berlebihan,” ungkapnya.

Khutbah itu juga menyoroti pentingnya membangun keluarga di atas pondasi iman. Kisah dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail disebut sebagai contoh keteladanan tentang kepatuhan tanpa keraguan terhadap perintah Allah SWT.

Dalam suasana penuh haru, Jumail menutup khutbahnya dengan harapan agar Idul Adha tahun ini menjadi momentum memperkuat keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketakwaan umat kepada Allah SWT.

Usai salat, jamaah tampak saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Sebagian warga mengaku tersentuh dengan isi khutbah yang dinilai bukan hanya menyejukkan, tetapi juga menjadi “alarm moral” bagi kehidupan sosial masyarakat saat ini. */tasiman

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *