“Ketupat Menggunung, Pejabat Pun Tersenyum: Halal Bihalal Banggai Jadi ‘Ajang Balap Santan’?”

banner 468x60

LUWUK, WACANA PUBLIK – Pemerintah Kabupaten Banggai kembali menggelar kegiatan halal bihalal yang dikemas meriah di Lapangan Mirkan, Bukit Halimun, Jumat (10 April 2024). Namun di balik suasana penuh kehangatan dan silaturahmi, festival ketupat yang menjadi daya tarik utama justru memunculkan sejumlah pertanyaan publik.

Dari hasil pemantauan media ini di lapangan, sedikitnya 64 stan dari berbagai instansi dan perangkat daerah (OPD) ikut ambil bagian dalam Festival Ketupat tersebut. Total ketupat yang tersaji pun tidak main-main—mencapai sekitar 18.000 buah, menjadikan acara ini layaknya “lautan ketupat” yang mengundang decak kagum sekaligus tanda tanya.

banner 336x280

Sorotan publik mengarah pada salah satu peserta, yakni Kecamatan Kintom, yang disebut-sebut menjadi “raja ketupat” dengan menyajikan 1.447 buah ketupat dalam satu stan. Angka ini sontak memancing reaksi warganet dan pengamat lokal: apakah ini sekadar lomba kreativitas atau sudah menjurus pada adu gengsi antarinstansi?

Acara ini turut dihadiri oleh Bupati Banggai, jajaran Forkopimda, termasuk Kapolres Banggai, serta para pejabat OPD di lingkungan pemerintah daerah. Dalam pantauan langsung, Bupati terlihat berkeliling dari satu stan ke stan lainnya, mencicipi berbagai sajian yang tersedia, sembari menyapa peserta dan masyarakat.

Namun demikian, sejumlah warga yang ditemui media ini menyampaikan pandangan beragam. Ada yang mengapresiasi kemeriahan dan nilai kebersamaan yang terbangun, tetapi tak sedikit pula yang mempertanyakan efisiensi anggaran dan esensi kegiatan tersebut.

“Kalau tujuannya silaturahmi, bagus. Tapi kalau sampai ribuan ketupat begini, jangan-jangan lebih banyak yang terbuang daripada dimakan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Selain itu, kegiatan ini disebut sebagai agenda rutin tahunan yang digelar setiap bulan Syawal, meski dalam narasi kegiatan juga disinggung kaitannya dengan tradisi yang berlangsung pada momen keagamaan lainnya. Hal ini memunculkan dugaan adanya tumpang tindih pemaknaan kegiatan yang perlu diluruskan oleh pihak penyelenggara.

Acara yang dimulai sekitar pukul 14.00 WITA ini memang berlangsung meriah, dipadati peserta dan pengunjung. Namun di balik kemeriahan tersebut, publik berharap agar kegiatan seremonial seperti ini tetap mengedepankan prinsip efektivitas, efisiensi, dan manfaat nyata bagi masyarakat luas, bukan sekadar ajang “pamer ketupat berjamaah.”

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah daerah terkait total anggaran yang digelontorkan untuk kegiatan tersebut maupun mekanisme distribusi makanan yang tersisa. */tas

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *