Catatan ringan sebagai renungan oleh tasiman
LUWUK, WACANA PUBLIK – Fenomena perbedaan penetapan 1 Ramadan kembali menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia. Setiap tahun, penentuan awal bulan suci antara pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dan Muhammadiyah kerap berbeda, memunculkan dua versi awal puasa yang sama-sama diyakini berdasarkan metode masing-masing.
Perbedaan tersebut terjadi karena adanya perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah. Pemerintah menggunakan metode rukyatul hilal atau pemantauan langsung hilal (bulan sabit) yang dikombinasikan dengan hisab (perhitungan astronomi) melalui sidang isbat. Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni perhitungan astronomi tanpa menunggu hasil rukyat.
Setiap menjelang Ramadan, sidang isbat yang digelar Kementerian Agama selalu dinanti publik. Dalam sidang tersebut, pemerintah mengundang berbagai pihak, termasuk perwakilan ormas Islam, ahli astronomi, serta perwakilan DPR dan Mahkamah Agung, untuk memutuskan secara resmi kapan 1 Ramadan dimulai.
Di sisi lain, Muhammadiyah biasanya telah lebih dahulu mengumumkan jadwal awal Ramadan jauh hari sebelumnya melalui maklumat resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, karena perhitungan hisab dapat dilakukan jauh sebelum bulan berjalan.
Akibat perbedaan metode ini, tidak jarang masyarakat menemukan situasi unik: sebagian warga sudah melaksanakan salat tarawih, sementara yang lain masih menjalankan aktivitas seperti biasa. Meski demikian, perbedaan ini umumnya berlangsung dalam suasana yang tetap kondusif dan saling menghormati.
Para pakar falakiyah menjelaskan bahwa secara ilmiah, kedua metode tersebut memiliki dasar yang kuat dalam khazanah fiqih Islam. Perbedaan ijtihad ini telah berlangsung lama dan bukan hal baru dalam sejarah umat Islam, bahkan terjadi pula di sejumlah negara lain.
Pemerintah dan Muhammadiyah pun berkali-kali mengimbau masyarakat agar menyikapi perbedaan dengan bijak. Ramadan sejatinya menjadi momentum mempererat ukhuwah, bukan memperuncing perbedaan.
Dengan demikian, meski “hilal” kerap membuat publik tersenyum geli karena hadir dalam dua versi tanggal, semangat ibadah dan kebersamaan tetap menjadi tujuan utama umat Islam dalam menyambut bulan suci Ramadan setiap tahunnya. ***














