Laporan : Tasiman Wacana Publik
BUKIT MAKARTI, WACANA PUBLIK – Di tengah berkurangnya ruang fiskal desa akibat penyesuaian dan pemangkasan anggaran Dana Desa tahun 2026, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bukit Makarti, Kecamatan Toili Barat, justru tetap menunjukkan aktivitas ekonomi yang berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Ketika sejumlah program pembangunan desa harus menyesuaikan kondisi keuangan yang semakin terbatas, BUMDes Bukit Makarti masih mampu mempertahankan beberapa unit usaha yang langsung menyentuh kebutuhan warga, khususnya petani dan peternak.
Kepala Desa Bukit Makarti, Sutrimo Arianto, menjelaskan bahwa hingga saat ini BUMDes tetap berjalan dengan fokus pada tiga sektor utama, yakni penyediaan pupuk non-subsidi, penjualan obat-obatan dan sarana produksi pertanian (saprodi), serta usaha penggemukan sapi.
“BUMDes tetap jalan. Alhamdulillah masih bisa melayani masyarakat. Yang berjalan sekarang pupuk non-subsidi, obat-obatan saprodi, dan penggemukan sapi,” ujarnya.
Salah satu program yang dinilai cukup berhasil adalah usaha penggemukan sapi yang melibatkan kerja sama antara BUMDes dan masyarakat. Dalam pola tersebut, keuntungan hasil penjualan ternak dibagi antara pengelola dan BUMDes.
Menurut Sutrimo Arianto, skema pembagian keuntungan dilakukan secara proporsional, yakni 60 persen untuk pengelola atau penggembala sapi dan 40 persen untuk BUMDes. Pola kemitraan tersebut dinilai mampu menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara lembaga desa dan masyarakat.
Selain sektor peternakan, peran BUMDes juga dirasakan langsung oleh petani melalui penyediaan obat-obatan pertanian dan sarana produksi dengan sistem pembayaran yang lebih fleksibel.
Petani dapat mengambil kebutuhan pertanian terlebih dahulu, kemudian melakukan pembayaran setelah musim panen tiba. Sistem tersebut menjadi solusi bagi petani yang sering menghadapi keterbatasan modal pada awal musim tanam.
“Petani bisa ambil dulu obat-obatan dan kebutuhan pertanian. Bayarnya nanti setelah panen. Jadi sangat membantu masyarakat,” kata Sutrimo Arianto.
Ia mencontohkan, obat-obatan pertanian yang dibeli BUMDes dengan harga tertentu dijual kembali dengan maring yang relatif kecil. Tujuannya bukan semata mencari keuntungan besar, melainkan memastikan kebutuhan petani tetap terpenuhi dengan harga yang terjangkau.
Model usaha seperti ini menunjukkan bahwa BUMDes tidak hanya berfungsi sebagai lembaga bisnis desa, tetapi juga menjadi instrumen pelayanan ekonomi masyarakat. Keuntungan yang diperoleh tetap ada, namun orientasinya diarahkan untuk memperkuat perputaran ekonomi di tingkat desa.
Di tengah berbagai tantangan akibat keterbatasan anggaran pembangunan, keberadaan BUMDes Bukit Makarti menjadi contoh bagaimana desa berupaya mencari sumber penguatan ekonomi secara mandiri. Ketika dana pembangunan berkurang, sektor usaha desa menjadi salah satu tumpuan untuk menjaga aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak.
Meski demikian, tantangan ke depan masih cukup besar. Kehadiran program-program ekonomi baru dari pemerintah pusat, termasuk pembentukan koperasi desa, akan membutuhkan sinkronisasi yang baik agar tidak terjadi tumpang tindih dengan usaha-usaha yang selama ini telah dijalankan BUMDes.
Bagi masyarakat Bukit Makarti, yang terpenting bukan sekadar nama lembaganya, melainkan bagaimana kebutuhan petani, peternak, dan pelaku usaha kecil tetap terlayani. Sejauh ini, BUMDes masih menjadi salah satu motor penggerak ekonomi desa yang terbukti memberikan manfaat nyata bagi warga.
\Catatan Investigasi: Di saat banyak desa mengeluhkan menyusutnya anggaran pembangunan, Bukit Makarti memperlihatkan sisi lain. Pembangunan fisik boleh melambat, tetapi roda ekonomi masyarakat masih berusaha berputar melalui BUMDes. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberadaan BUMDes dan program ekonomi baru pemerintah dapat berjalan berdampingan tanpa mengurangi manfaat yang selama ini dirasakan masyarakat. */tasiman



















