Laporan : Tasiman wartawan Wacana Publik (1)
LUWUK, WACANA PUBLIK – Ribuan umat Muslim memadati Lapangan Mirqan Bukit Halimun, Kabupaten Banggai, Sabtu pagi (1 Syawal 1447 H/2026 M). Sejak pukul 06.00 WITA, arus jemaah dari berbagai penjuru Kota Luwuk dan sekitarnya terus berdatangan, menciptakan lautan manusia berpakaian serba putih yang nyaris menutup seluruh area lapangan.
Pelaksanaan Sholat Idul Fitri yang diselenggarakan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Banggai berlangsung tertib dan khidmat. Kumandang takbir yang telah menggema sejak malam sebelumnya mencapai puncaknya saat ribuan jemaah serempak mengumandangkan “Allahu Akbar” di bawah langit cerah Bukit Halimun.
Bertindak sebagai khatib, Bupati Banggai, Ir. H. Amiruddin Tamoreka, SP, MM., MP.,AIFO, menyampaikan khutbah bertajuk “Merajut Tali Persaudaraan di Hari yang Fitri”. Dalam khutbahnya, ia mengangkat refleksi spiritual sekaligus menyisipkan pesan sosial yang cukup tajam.

Dalam pengamatannya, suasana haru bercampur bahagia menjadi warna Idul Fitri tahun ini. “Ada air mata bahagia karena bertemu hari raya, dan ada pula kesedihan karena berpisah dengan Ramadan,” ujarnya di hadapan jemaah.
Namun, tidak berhenti pada nuansa religius, khutbah tersebut juga menyinggung konsistensi ibadah pasca-Ramadan. Bupati mempertanyakan secara terbuka apakah semangat beribadah yang meningkat selama bulan suci Ramadhan akan tetap terjaga, atau justru kembali meredup.
“Jika setelah Ramadan masjid mulai ditinggalkan, Al-Qur’an tidak lagi dibaca, maka Ramadan yang kita jalani patut dipertanyakan keberhasilannya,” tegasnya.
Pernyataan ini, meski disampaikan dalam bingkai keagamaan, dinilai sebagai kritik halus terhadap pola keberagamaan yang cenderung musiman—fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat.
Lebih jauh, khutbah juga menyentil dinamika sosial-politik di daerah. Amiruddin mengajak masyarakat untuk meninggalkan sekat-sekat perbedaan, terutama pasca kontestasi politik.
“Tidak ada lagi istilah pendukung nomor satu, dua, atau tiga. Hari ini kita semua adalah masyarakat Banggai yang bersaudara,” katanya.
Pesan ini disampaikan di tengah realitas bahwa polarisasi pasca-pemilihan masih terasa di sejumlah lapisan masyarakat. Ajakan tersebut menjadi penegasan bahwa momentum Idul Fitri seharusnya menjadi titik rekonsiliasi sosial.
Dari hasil pantauan Wacana Publik di lapangan, pelaksanaan sholat berlangsung lancar tanpa gangguan berarti. Aparat keamanan dan panitia terlihat sigap mengatur arus jemaah, meskipun kepadatan sempat terjadi di beberapa titik akses masuk.
Meski demikian, terdapat catatan kecil terkait pengelolaan parkir dan lalu lintas di sekitar lokasi yang belum sepenuhnya tertata optimal. Beberapa jemaah mengaku harus berjalan cukup jauh akibat keterbatasan area parkir.
Secara keseluruhan, pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Lapangan Mirqan Bukit Halimun tahun ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga panggung refleksi sosial. Di balik gema takbir dan suasana khusyuk, terselip pesan kuat: menjaga iman jauh lebih sulit daripada meraihnya selama sebulan penuh Ramadan.
Idul Fitri pun bukan sekadar perayaan, melainkan ujian—apakah nilai-nilai yang dibangun selama Ramadan benar-benar hidup, atau hanya “tampil maksimal” selama 30 hari saja. */tasiman











