Laporan : Tasiman Wartawan Wacana Publik (bag. 2)
LUWUK, WACANA PUBLIK – Lapangan Mirqan, Bukit Halimun, Kabupaten Banggai, menjelma menjadi “lautan putih” pada pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Ribuan jemaah dari berbagai penjuru memadati lokasi sejak pagi hari, menghadirkan suasana religius sekaligus menjadi ajang silaturahmi akbar pasca-Ramadan.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) ini turut dihadiri sejumlah pejabat penting, mulai dari Bupati Banggai, Ir. H. Anuruddin Tamoreka, MM, MP.,AIPO yang juga bertindak sebagai khatib, hingga anggota DPR RI, Ir. Beniyanto Tamoreka, ST, MT, Wakil Bupati Banggai Drs.H.Furqan Masulili, MM, Ketua DPRD Kabupaten Banggai Saripudin Tjato, SH dan nampak Dandim 1308 Luwuk Banggai, serta jajaran pejabat pemerintah daerah lainnya yang tidak sebutkan satu persatu namanya.

Namun, di balik khidmatnya suasana ibadah, terdapat pesan tajam yang disampaikan dalam khutbah yang bertajuk “Merajut Tali Persaudaraan di Hari yang Fitri Ini.” Bupati tidak hanya menyampaikan pesan spiritual normatif, tetapi juga menyentil fenomena sosial yang kerap terjadi di tengah masyarakat—bahkan di lingkungan birokrasi dan politik.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan pentingnya meninggalkan polarisasi pasca-Pemilu dan Pilkada.
“Yang lalu biarlah berlalu. Jangan lagi bicara Pilkada, tapi bicaralah apa yang dibutuhkan masyarakat,” tegasnya di hadapan ribuan jemaah.
Pernyataan ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa stabilitas sosial dan percepatan pembangunan daerah menjadi prioritas utama pemerintah daerah, sekaligus kritik halus terhadap masih adanya gesekan politik di akar rumput.
Lebih jauh, khutbah tersebut juga menyoroti kualitas ibadah puasa umat Islam. Dengan gaya bahasa yang lugas dan menyentil, Bupati mengingatkan bahwa puasa tidak boleh berhenti pada aspek formalitas semata.
“Banyak orang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus. Perut kosong, tapi lisan tetap pedas. Tenggorokan kering, tapi gosip tetap lancar,” ujarnya.
Pernyataan ini secara tidak langsung mengkritik budaya komunikasi negatif, termasuk maraknya penyebaran informasi yang tidak benar, terutama di media sosial. Ia bahkan menyinggung fenomena “jari yang rajin berwudhu, tapi tak santun saat bermedia sosial”—sebuah realitas yang kini menjadi sorotan publik.
Dalam perspektif investigatif, pesan ini relevan dengan meningkatnya kasus disinformasi di ruang digital yang kerap memicu konflik sosial, terutama di daerah dengan dinamika politik yang masih hangat pasca kontestasi.
Bupati juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam sikap saling menjatuhkan. Ia mengutip nasihat ulama salaf tentang bahaya mencelakai orang lain, yang berdampak pada tertolaknya doa dan amal kebaikan.
Selain itu, ia menggarisbawahi bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum transformasi diri. Kesucian yang diraih, menurutnya, harus tercermin dalam tiga aspek: indah, baik, dan benar.
“Kalau Ramadan membuat rumah tangga lebih damai, kantor lebih sejuk, dan masyarakat lebih rukun, barulah puasa kita bernilai,” tambahnya.
Dari sisi pengamatan lapangan, pelaksanaan Sholat Idul Fitri berlangsung tertib dan lancar. Namun, tingginya antusiasme masyarakat juga menjadi catatan penting bagi penyelenggara, terutama terkait manajemen kerumunan dan fasilitas pendukung.
Secara keseluruhan, perayaan Idul Fitri di Lapangan Mirqan Bukit Halimun bukan hanya menjadi ajang ibadah massal, tetapi juga panggung refleksi sosial. Khutbah yang disampaikan tidak sekadar menenangkan, tetapi juga “menyengat”—mengajak masyarakat bercermin, sekaligus mendorong perubahan nyata pasca-Ramadan.
Idul Fitri kali ini seolah menegaskan satu hal: tantangan terbesar bukan menahan lapar dan dahaga, melainkan menjaga lisan, sikap, dan persatuan setelah Ramadan berlalu. */tasiman











