Laporan : Tasiman Wartawan Wacana Publik (3-habis)
LUWUK, WACANA PUBLIK – Pelaksanaan Salat Idul Fitri di Kabupaten Banggai tahun ini tak hanya dipenuhi gema takbir, tetapi juga getaran nurani yang dalam. Bupati Banggai, Ir.H. Anruddin Tamureka, SP.,MM.,MP.,AIPO tampil sebagai khatib dengan judul khutbah yang menyentuh sekaligus menohok: “Merajut Tali Persaudaraan di Hari yang Fitri.”
Dalam khutbahnya, Amirudin Tamoreka tak sekadar menyampaikan pesan normatif, tetapi menyuguhkan refleksi tajam yang menggugah kesadaran jamaah. Ia mengutip ajaran ulama tasawuf besar, Syekh Abdul Qadir Jaelani, bahwa Idul Fitri sejatinya adalah momentum untuk menghapus dosa dan berhijrah dari keburukan menuju kebaikan.

Namun, suasana khidmat berubah menjadi penuh perenungan ketika sang bupati melontarkan kritik keras terhadap perilaku umat pasca-Ramadan.
“Selama sebulan kita bangun subuh, mengagungkan nama Allah. Tapi alangkah malangnya, setelah Ramadan kita kembali lelap, melewati subuh seperti bangke yang tak bergerak,” tegasnya di hadapan ribuan jamaah.
Tak berhenti di situ, ia juga menyoroti perubahan sikap lisan umat. Bibir yang sebelumnya basah dengan zikir dan doa, kata dia, justru kembali digunakan untuk menggunjing, memfitnah, dan menjatuhkan sesama.
Melalui khutbahnya, Amirudin Tamoreka mengajak masyarakat menjadikan Idul Fitri sebagai titik balik—bukan sekadar seremoni tahunan. Ia mengibaratkan manusia ideal seperti kupu-kupu yang memberi manfaat bagi kehidupan, membantu penyerbukan, dan menghadirkan keindahan tanpa merusak.
“Jadilah pemaaf, jadilah bermanfaat. Setelah kita menunaikan hak Allah selama Ramadan, kini saatnya memenuhi hak sesama manusia,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya merajut kembali silaturahmi yang mungkin sempat retak—baik antara keluarga, tetangga, hingga relasi sosial yang lebih luas. Meminta maaf, menurutnya, bukan tanda kelemahan, melainkan kemuliaan akhlak.
Namun, bagian paling menggetarkan dari khutbah tersebut adalah saat ia mengangkat tema bakti kepada orang tua. Dengan nada emosional, Amirudin Tamoreka mengajak jamaah merenungkan kembali pengorbanan ayah dan ibu.
Ia menggambarkan bagaimana orang tua berjuang tanpa lelah—kulit yang menghitam karena matahari, tubuh yang kian renta, hingga pengorbanan luar biasa seorang ibu yang mempertaruhkan nyawa saat melahirkan.
“Ketika seorang ibu dihadapkan pada pilihan hidup atau mati, dia akan berkata: selamatkan anakku, walaupun aku harus pergi,” ucapnya, membuat suasana lapangan hening dan haru.
Bupati Amirudin Tamoreka juga mengkritik keras sikap anak-anak yang lupa diri—yang menikmati hasil jerih payah orang tua, namun enggan berbagi saat telah sukses, bahkan tega membentak mereka di usia senja.
Menurutnya, ridho orang tua adalah kunci keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Ia mengingatkan bahwa tak ada cinta yang lebih tulus dari seorang ibu yang rela lapar, rela tidak tidur, bahkan rela berhutang demi kebahagiaan anaknya.
Khutbah ini pun ditutup dengan ajakan kuat: menjadikan Idul Fitri sebagai momentum perubahan nyata—memperbaiki hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan terutama kepada kedua orang tua.
Di tengah euforia hari kemenangan, pesan Bupati Banggai ini menjadi pengingat tajam: bahwa kemenangan sejati bukan pada pakaian baru atau hidangan mewah, melainkan pada hati yang kembali bersih, hubungan yang kembali utuh, dan bakti yang kembali hidup. */tasiman

















