LUWUK, WACANA PUBLIK – Perhelatan Konferensi Persatuan Wartawan Indoesia (PWI) Perwakilan Banggai yang membawai Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan dan Kabupaten Banggai Laut telah usai yang digelar di Kantor Sekretariat PWI Banggai, Kamis (14/11 ) lalu dan terpilih Abd. Saleh sebagai ketua yang baru menggantikan Iskandar Djiada yang sudah berakhir masa tugasnya selama dua periode.
Ketua PWI Provinsi Sulawesi Tengah, Tri Putra Toana, bertempat di ruang pertemuan Hotel Permai Luwuk, Sabtu (15/11) mengukuhkan pengurus baru PWI perwakilan Banggai Bersaudara yang membawahi Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan serta Kabupaten Banggai Laut masa bhakti periode tahun 2025 – 2028.
Ketua PWI Provinsi Sulawesi Tengah, Tri Putra Toana, dalam sambutanya antara lain mengatakan, kehadiran PWI di bumi NKRI sejarahnya berdasarkan keinginan, keinginan dari bangsa ini. Organisasi PWI ini berdiri sejak tahun 1946 atau satu tahun sejak Indonesia merdeka.
” Jadi kehadiran organisasi PWI di Indonesia ini berdasarkan kebutuhan dan hak ini semua pada saat itu bapak bapak pendiri bangsa Indonesia dan kebetuan salah satu pendiri bangsa Indonesia ini adalah seorang jurnalis. Melalui tulisan tulisan dan rumus rumusanya mereka mampu menggelorakan semangat dan perjuangan bangsa Indonesia,” ujar Tri Putra Toana.
” Jadi kehadiran PWI di Indonesia ini adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat bukan hanya tanggungjawab pekerja pers saja semata, karena organisasi profesi PWI yang tertua di Indonesia ini dilahirkan berdasarkan Undang Undang yang dibentuk antara pemerintah dengan DPR itu ” tambah Tri Putra Toana.
Menurut Tri Putra Toana, kalau mau dicermati wartawan ini adalah seorang pemikir dan konseptor. Namun, kata Tri Putra Toana, pihaknya melihat banyak wartawan di daerah ini yang fundamentalnya masih lemah sekali. Sehingga pekerja jurnalistik ini banyak yang dinodai dengan praktek praktek yang tidak terpuji dengan fundamental yang lemah ini. Karena mereka menganggap menjadi seorang wartawan gampang sekali karena dekat dengan pemerintah daerah.
Maka sekarang di era digitalisasi ini, sebut Tri Putra Toana, pertumbuhan pers melalui media sosial mengalami kenaikan yang cukup signifikan di Indnesia ini. Maka banyak wartawan yang susah dikenali, mana wartawan yang sebenarnya dan mana wartawan yang hoaks ini.
Di Indonesia ini kita mengenal dengan sebutan pers Pancasila atau pers kebangsaan. Artinya, pers yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dari pada kepentingan pribadi dan golongan. Sehingga pers di Indonesia harus mengandung sifat interaksi positif dan penyambung lidah masyarakat dan pemerintah.
Artinya, Lanjut kata Tri Putra Toana, pers sebagai tugas utama untuk menyebarluaskan informasi di masyarakat, apa apa yang sudah dikerjakan oleh pemerintah dan apa apa yang kurang dalam masyarakat pers harus diberitakan, walaupun siapa yang memimpin di daerah ini. Suka atau tidak suka ini adalah tanggungjawab seorang wartawan untuk memberitakannya.
” Ini dikandung maksud supaya masyarakat dan pemerintah tau. Misal, daerah ini terjadi banjir dan tanah lonsor serta ada warga masyarakat masih banyak yang kelaparann dan sebagainya. Jadi pers sebagai penyambung lidah masyarakat dan pemerintah harus memberitakan informasi tersebut.
Menurut Tri Putra Toana, suatu negara yang dikatakan pemimpinya ditaktor adalah apabila kebebasan pers dibelenggu. Sehingga ia berharap di Kabupaten Banggai ini bahwa kebebasan pers tidak dibelenggu. Melihat pemimpin di daerah demokratis atau tidak dapat dilihat dari pada kebebasan persnya.
Secara terpisah, Bupati Banggai dalam sambutanya yang diwakili Sekretaris kabupaten, Ramly Tongko mengatakan, atas nama pemerintah daerah Kabupaten Banggai menyampaikan apresiasi dan terima kasih banyak yang setinggi tingginya kepada PWI Perwakilan Banggai bersausara yang telah sukses dalam penyelenggaraan kegiatan workshop dan konferensi.
Selain itu, bupati Banggai juga mengucapkan selamat atas dikukuhnya pengurus baru PWI Perwakilan Banggai yang membawahi Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut masa bakhti periode tahun 2025 – 2028.
Menurut Bupati Banggai, di era digitalisasi ini yang perlu tantangan informasi adalah mulai dari arus berita cepat dan teknologi yang kreatif, serta selain itu wartawan juga dituntut untuk semakin profesional, akurat dan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Oleh karena itu, lanjut Bupati Banggai, kegiatan workshop dan konferensi sangat diperlukan untuk kapasitas dan kualitas pemberitaan.
Pers yang profesional itu, ungkap Bupati Banggai, bukan hanya mampu menyampaikan informasi yang benar, akan tetapi bisa membangun optimisme publik, meningkatkan literasi dan mendorong kualitas penyelenggara pemerintah. Pemerintah daerah tidak akan mampu bekerja secara optimal tanpa kontrol sosial yang sehat dari insan pers yang ada itu sendiri.
PWI sebagai organisasi profesi, lanjut Bupati Banggai, memiliki tanggungjawab yang besar dalam menjaga marwah dan penghormatan jurnalistik melalui penyelenggara workshop dan konferensi ini. Ia berharap PWI ini menjadi wadah yang mampu menguatkan kopetensi wartawan melalui sertifikasi dan pendampingan dan menjaga standar berita melalui pendekatan kode etik jurnalistik dalam setiap peliputan.
Pemerintah Kabupaten Banggai, tegas Bupati Banggai, menyadari bahwa tidak ada pembangunan yang berhasil tanpa adanya dukungan komunikasi publik dalam hal ini insan pers yang merupakan mitra strategi. Pemda Kabupaten Banggai berkomitmen untuk selalu membuka dialog dan kolaborasi dengan PWI dan seluruh wartawan yang ada.
Bupati Banggai juga mengingatkan kepada semua insan pers bahwa Pemerintah daerah Kabupaten Banggai tidak anti kritik. Dan justru kritik yang obyektif, profesional dan berbasis data sangat dibutuhkan.
” Kritik yang kontruktif bukan akhir dari suatu zaman, akan tetapi sebagai bahan bakar bagi kami untuk memperbaiki diri danmeningkatkan kualitas pelayanan publik, ” tegas Bupati Banggai.
Bupati Banggai juga mengajak kepada seluruh insan pers untuk menjaga kesinambungan antara fungsi kontrol dan fungsi edukasi. ” Tegas dalam mengeritik dan obyektif dalam menilai serta adil dalam menyampaikan informasi yang fakta, ” tandasnya.
” Kritik yang konstruktif adalah energi positif untuk perbaikan tata kelola pemerintahan Kabupaten Banggai yang ada, ” pinta Banggai dengan nada serius.
Pada kesempatan terpisah, Ketua PWI Perwakilan Banggai Bersaudara, Abd.Saleh yang akrab dipanggil om Ale ini seusai acara pengukuhan hanya mengungkapkan ucapan rasa bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak telah membantu baik moril maupun materil demi suksesnya penyelenggaraan kegiatan workshop dan konferensi ini.
” Saya juga berterima kasih kepada semua rekan rekan wartawan yang telah mendorong untuk memberikan semangat dan suport, sehingga saya bisa duduk terpilih sebagai ketua secara aklamasi, ” Om Ale dengan nada merendah. * (tasiman/wacana publik)











