“ Baru 16 perpustakaan desa aktif dari ratusan desa di Banggai, Kadis Benyamin Pongdatu : Ini tantangan besar yang harus segera dibenahi “
LUWUK, WACANA PUBLIK – Perpustakaan tidak boleh hanya menjadi tempat menyimpan buku yang sepi pengunjung. Pesan itu disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banggai, Drs. Benyamin Pongdatu, M.Si saat memaparkan sejumlah terobosan yang tengah dan akan dijalankan guna mendukung visi pembangunan daerah hingga ke pelosok desa.
Menurut Bunyamin, perpustakaan harus hadir sebagai pusat literasi, ruang publik, dan tempat pemberdayaan masyarakat. Karena itu, berbagai inovasi telah dilakukan, mulai dari layanan perpustakaan gratis, antar-jemput pustaka, penyediaan buku elektronik, hingga program perpustakaan berbasis inklusi sosial.
“Kalau hanya pandai bercerita tanpa ada aksi nyata di lapangan, sama saja dengan cerita bohong,” tegasnya.

Di bawah kepemimpinannya, Perpustakaan Kabupaten Banggai kini tidak hanya menjadi tempat membaca. Gedung perpustakaan dibuka seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berbagai kegiatan edukatif dan sosial. Mulai dari bedah buku, diskusi akademik, rapat organisasi, hingga pelaksanaan Car Free Day setiap akhir pekan.
Namun di balik berbagai terobosan tersebut, tersimpan fakta yang cukup menggelitik. Dari ratusan desa yang ada di Kabupaten Banggai, saat ini baru terdapat sekitar 16 perpustakaan desa yang aktif dan terdata.
“Ini yang menjadi keprihatinan kami. Program pembangunan tidak boleh berhenti di tingkat kabupaten. Harus sampai ke desa-desa,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan akan menggelar Lomba Perpustakaan Desa tingkat Kabupaten Banggai pada awal Juli mendatang. Kegiatan ini disebut sebagai yang pertama kali dilaksanakan sepanjang sejarah perpustakaan daerah.
Tim penilai akan melibatkan unsur akademisi dari perguruan tinggi, instansi teknis, serta pembina perpustakaan daerah. Penilaian dilakukan langsung di masing-masing perpustakaan desa peserta.
Tidak hanya memperebutkan piagam penghargaan, para pemenang juga akan memperoleh hadiah uang pembinaan yang telah dianggarkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dinas.
“Juara pasti ada reward. Selain piagam, kami siapkan hadiah untuk pengembangan perpustakaan. Bahkan saya akan menghadap Bupati, siapa tahu bonusnya bisa ditambah,” kata Benyamin disambut senyum para wartawan.
Program ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pembangunan literasi mulai diarahkan lebih serius ke wilayah pedesaan. Sebab, menurutnya, tidak mungkin masyarakat desa harus datang jauh ke ibu kota kabupaten hanya untuk mendapatkan akses bacaan yang layak.
Karena itu, pihaknya juga telah mengusulkan bantuan buku ke Perpustakaan Nasional bagi sejumlah perpustakaan desa dan taman baca masyarakat. Setiap lembaga yang lolos seleksi berpeluang memperoleh bantuan hingga seribu judul buku.
Kini tantangannya bukan lagi membangun gedung semata, melainkan memastikan budaya membaca tumbuh hingga ke desa-desa. Sebab perpustakaan yang hidup bukan diukur dari banyaknya rak dan buku, melainkan dari banyaknya masyarakat yang datang belajar, berdiskusi, dan berkembang bersama.
Lomba perpustakaan desa yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banggai menjadi langkah awal untuk membuktikan bahwa literasi tidak boleh berhenti di kota, tetapi harus menyala hingga ke pelosok. */tasiman
















