Kemarau Panjang Ancam Gagal Panen, Sawah di Delapan Desa Kecamatan Moilong Retak dan Mengering

banner 468x60

MOILONG, WACANA PUBLIK – Musim kemarau panjang yang telah berlangsung lebih dari satu bulan terakhir mengancam keberlangsungan pertanian padi di delapan desa wilayah Kecamatan MoIlong, Kabupaten Banggai. Kondisi ini membuat ratusan hektare sawah mengering, tanah retak-retak, dan para petani berada di ambang gagal panen.

Pantauan media Wacana Publik di sejumlah lokasi persawahan menunjukkan lahan pertanian kini kekurangan air secara ekstrem. Bendungan irigasi Mansahang yang selama ini menjadi tumpuan utama pasokan air dilaporkan tidak lagi berfungsi akibat kekeringan parah dan debit air yang nihil.

banner 336x280

Salah seorang petani, Parno (55), warga Desa Bumiharjo, saat ditemui di lokasi persawahan mengatakan kemarau panjang yang melanda wilayah Kecamatan Moilong berdampak serius terhadap tanaman padi milik petani.

 “Kemarau ini sudah lebih dari satu bulan. Air tidak ada sama sekali. Kalau kondisi ini terus berlanjut, kemungkinan besar kami akan gagal panen,” ujar Parno.

Hal senada disampaikan Alim, petani asal Desa Bumiharjo. Ia menyebut hampir seluruh petani sawah di delapan desa menghadapi ancaman yang sama akibat kekurangan air.

Sementara itu, petani lainnya, Soeharsono (45), menjelaskan bahwa usia tanaman padi saat ini telah memasuki hampir dua bulan, yang seharusnya membutuhkan pasokan air cukup untuk pemupukan dan pembersihan gulma.

 “Umur padi sudah hampir dua bulan, tapi air sama sekali tidak ada. Sungai dan bendungan kering. Kami bahkan coba buat sumur bor sedalam 16 meter, tapi tidak dapat air, yang keluar hanya pasir,” jelasnya.

Menurut Soeharsono, satu-satunya harapan petani saat ini hanyalah turunnya hujan agar tanaman padi bisa bertahan dan tidak mati sebelum masa panen.

Adapun delapan desa yang terdampak kekeringan tersebut meliputi Desa Sidoharjo, Bumi harya, Saluan, Karanganyar, Sidomukti, Minakarya, Minahaki, dan Karyajaya.

Jika persoalan krisis air ini tidak segera teratasi, maka kegagalan panen dikhawatirkan akan terjadi secara massal dan berdampak langsung pada perekonomian petani di Kecamatan Moelong.

Pengamat irigasi setempat, Darmaji, saat dimintai keterangan mengatakan bahwa berbagai upaya telah dilakukan, termasuk memanfaatkan aliran sungai serta koordinasi pengadaan pompa air. Namun tingginya tingkat peresapan tanah dan minimnya sumber air membuat upaya tersebut belum membuahkan hasil.

“Kami sudah berkoordinasi dengan petani, BBDA, dan dinas pertanian untuk solusi pompa air. Tapi kondisi sungai dan rawa juga kering, sehingga sulit mendapatkan air,” jelas Darmaji.

Ia menambahkan bahwa cuaca panas ekstrem yang terjadi tahun ini memperparah kondisi. Selain itu, jadwal tanam padi yang mundur hingga Januari menyebabkan usia tanaman masih muda saat kemarau datang, sehingga kebutuhan air tidak terpenuhi secara optimal.

Pihak terkait kini diharapkan segera turun tangan mencari solusi konkret guna menyelamatkan sektor pertanian dan mencegah kerugian yang lebih besar bagi para petani di Kecamatan Moelong.

Menurut Darmaji, pihaknya sebelumnya pernah menyampaikan kepada sejumlah petani yang ada  agar setiap menghadapi musim kemarau agar para petani yang ada untuk mengalihkan tanamannya ke tanaman palawija seperti Jagung. Namun para petani masih ragu ketika pnen jagung kelak tidak ada pengusaha atau penampung yang mau membeli hasil panennya. */tasiman-wacana publik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed