“ Dari print gratis, buku elektronik hingga jemput-antar siswa, Dinas Perpustakaan Banggai mulai berubah wajah. Namun minimnya tenaga pustakawan menjadi alarm serius di balik derasnya inovasi. “
Laporan : Tasiman Wacana Publik
LUWUK, WACANA PUBLIK — Di tengah anggapan bahwa perpustakaan hanya tempat buku berdebu dan kursi sunyi, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banggai, Drs. Benyamin Pongdatu, M.Si justru melakukan berbagai “tabrakan inovasi” yang membuat wajah perpustakaan di Kabupaten Banggai mulai berubah drastis.
Dalam dua tahun terakhir, Kepala Dinas Perpustakaan Daerah dan Kearsipan Kabupaten Banggai itu menggulirkan sejumlah program yang terbilang tidak biasa untuk ukuran perpustakaan daerah.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah layanan print gratis bagi pelajar.

“Anak-anak sekolah yang ada tugas bisa datang print gratis di kantor perpustakaan. Kami siapkan sekitar 20 unit komputer,” ujar Benjamin Pongdatu kepada media online Wacana Publik belum lama ini, di kantornya.
Program itu langsung menjadi magnet bagi pelajar, terutama di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya stabil. Di saat harga kertas dan tinta printer terus naik, perpustakaan justru membuka layanan gratis.
Tak hanya itu, perpustakaan juga mulai masuk ke era digital melalui aplikasi iBangga yang dapat diunduh melalui Play Store.
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat membaca buku elektronik secara gratis. Saat ini tersedia sekitar 1.500 judul atau 2.500 eksemplar buku digital dan ditargetkan bertambah menjadi 2.500 judul atau 5.000 eksemplar.
Langkah ini dinilai menjadi terobosan penting di tengah rendahnya minat baca masyarakat dan dominasi penggunaan telepon genggam untuk hiburan semata.
Namun di balik sederet inovasi tersebut, terdapat fakta yang cukup mengejutkan.
Benyamin mengungkapkan bahwa tenaga pustakawan di dinas yang dipimpinnya kini hanya tersisa dua orang dan satu di antaranya segera memasuki masa pensiun.
Kondisi itu dinilai tidak sebanding dengan meningkatnya aktivitas dan pelayanan perpustakaan yang terus berkembang.
“Idealnya, inovasi besar harus ditopang sumber daya manusia yang memadai. Kalau tidak, pelayanan bisa kewalahan,” katanya.
Persoalan minimnya tenaga pustakawan ini menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi pemerintah daerah terus mendorong program Banggai Cerdas, namun di sisi lain sektor perpustakaan justru mengalami kekurangan tenaga profesional.
Benjamin berharap Pemerintah Kabupaten Banggai melalui BKD dapat membuka ruang penerimaan tenaga pustakawan agar pelayanan literasi semakin maksimal.
Selain layanan digital dan print gratis, perpustakaan kini juga menerapkan konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Artinya, perpustakaan tidak lagi sekadar tempat membaca buku, tetapi menjadi ruang aktivitas masyarakat.
Setiap hari, kantor perpustakaan ramai dikunjungi siswa mulai tingkat TK, SD, SMP hingga SMA dan mahasiswa.
Menariknya lagi, pihak perpustakaan menyediakan layanan jemput-antar siswa dari sekolah menuju perpustakaan dan kembali ke sekolah setelah kegiatan selesai.
“Kalau dulu anak-anak takut ke perpustakaan, sekarang malah minta dijemput,” canda salah satu guru pendamping.
Data evaluasi tahun 2025 menunjukkan jumlah pengunjung mencapai sekitar 13 ribu orang. Sementara hingga pertengahan Mei 2026, jumlah kunjungan sudah menembus 3 ribu lebih pengunjung.
Tak berhenti di situ, Benyamin juga menyiapkan berbagai lomba edukatif seperti lomba konten kreator, lomba pidato, lomba bertutur cerita rakyat Banggai hingga lomba penataan arsip antar-organisasi perangkat daerah.
Untuk lomba arsip, pemerintah daerah bahkan disebut akan menyiapkan penghargaan khusus dari Bupati Banggai bagi OPD dengan tata kelola arsip terbaik.
Saat ini jumlah koleksi buku fisik di perpustakaan daerah telah mendekati 15 ribu judul. Benjamin berharap sebelum memasuki masa purna bakti, jumlah itu bisa meningkat menjadi 20 ribu judul.
Selain itu, pihaknya juga berencana membangun studio mini edukasi yang nantinya digunakan untuk pemutaran film pendidikan bagi anak-anak.
Terobosan yang dilakukan Dinas Perpustakaan Banggai dinilai menjadi contoh bahwa perpustakaan daerah sebenarnya bisa tampil modern dan menarik jika dikelola dengan inovatif.
Namun tantangan terbesar tetap pada keberlanjutan program dan dukungan sumber daya manusia.
Sebab sehebat apa pun inovasi, jika tenaga pustakawan minim, maka perpustakaan hanya akan menjadi bangunan ramai sesaat tanpa pondasi pelayanan jangka panjang. */tasiman











