61 Tahun Mulyoharjo: Bukan Sekadar Pesta Desa, tetapi Ujian Menjaga Warisan Transmigrasi di Tengah Keberagaman

banner 468x60

MOILONG, WACANA PUBLIK – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Desa Mulioharjo, Kecamatan Moilong, yang digelar pada Kamis, 25 Juni 2026, berlangsung sederhana namun sarat makna. Di balik kemeriahan pertunjukan Reog Ponorogo, kuda lumping, karnaval, hingga doa bersama, tersimpan pesan penting mengenai perjalanan panjang sebuah desa transmigrasi yang terus bertumbuh di tengah keberagaman.

Berdasarkan pantauan media ini, rangkaian kegiatan diawali dengan karnaval yang mengambil start dari Kantor Desa Mulioharjo menuju Monumen Transmigrasi. Di lokasi tersebut, pemerintah desa bersama masyarakat melaksanakan prosesi tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para pelopor yang telah membuka dan membangun desa sekitar enam dekade silam.

banner 336x280

Usai prosesi penghormatan, rombongan kembali ke Kantor Desa Mulyoharjo untuk mengikuti doa bersama, makan bersama, serta pemotongan tumpeng. Momen tersebut menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan hari ulang tahun Kepala Desa Dani yang genap berusia 58 tahun. Tumpeng dipotong dan diserahkan kepada sang istri sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan kehidupan dan pengabdian kepada masyarakat.

Suasana perayaan semakin semarak dengan penampilan kesenian Reog Ponorogo dan kuda lumping yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat transmigrasi di desa tersebut. Meski tanpa kemewahan, antusiasme warga menunjukkan bahwa nilai kebersamaan jauh lebih penting daripada kemegahan sebuah acara.

Tahun ini, peringatan HUT ke-61 mengusung tema “Gerbang Menuju Desa Mulyoharjo yang Damai, Aman, Nyaman, dan Inovatif.” Tema tersebut menjadi refleksi sekaligus arah pembangunan desa pada masa mendatang.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Dani mengingatkan bahwa Mulyoharjo lahir dari perjuangan para pendahulu yang membuka kawasan transmigrasi dengan segala keterbatasan. Saat itu jumlah penduduk hanya sekitar 150 kepala keluarga. Kini, desa tersebut telah berkembang menjadi lebih dari 700 kepala keluarga yang berasal dari berbagai suku, budaya, dan agama.

Menurutnya, perkembangan tersebut membuktikan bahwa kemajuan desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, melainkan juga dari kemampuan masyarakat menjaga persatuan dan kerukunan dalam keberagaman.

Namun, perjalanan panjang itu juga menghadirkan tantangan baru. Bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya kebutuhan pembangunan, serta tuntutan pelayanan publik menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab bersama oleh pemerintah desa dan seluruh elemen masyarakat.

Sejumlah tokoh masyarakat menilai semangat gotong royong yang diwariskan para pendiri desa harus tetap menjadi fondasi pembangunan. Perbedaan suku, agama, budaya, maupun kepentingan tidak boleh menjadi sekat yang memecah persaudaraan.

Dari sudut pandang investigatif, perayaan ulang tahun desa ini bukan sekadar seremoni tahunan. Justru yang menjadi sorotan adalah bagaimana pemerintah desa berupaya menghidupkan kembali nilai sejarah melalui tabur bunga di Monumen Transmigrasi serta mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan perjuangan para perintis desa.

Enam puluh satu tahun merupakan usia yang cukup matang bagi sebuah desa. Tantangan ke depan bukan lagi sekadar membangun jalan, jembatan, atau gedung, tetapi menjaga persatuan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, serta menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Perayaan HUT ke-61 Desa Mulyoharjo akhirnya menjadi pengingat bahwa warisan terbesar para pendiri bukan hanya sebidang tanah transmigrasi, melainkan semangat kebersamaan yang harus terus dijaga agar desa tetap damai, aman, nyaman, dan mampu berkembang secara berkelanjutan.*/tasiman

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *